Nabi dalam bahasa arab berasal dari kata naba. Dinamakan Nabi
karena mereka adalah orang yang menceritakan suatu berita lewat wahyu.
Sedangkan Rasul secara bahasa berasal dari kata irsal yang bermakna membimbing
atau memberi arahan. Definisi secara syar’i yang masyhur, Nabi adalah
orang yang mendapatkan wahyu namun tidak diperintahkan untuk menyampaikan
sedangkan Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu dalam syariat dan
diperintahkan untuk menyampaikannya.
Oleh
sebab itu, seorang muslim wajib menjadikan Rasulullah SAW sebagai uswatun
hasanah dalam seluruh aspek kehidupan. Beriman kepada Rasul menurut Ibnu Saleh
al-Utsimin mengandung empat unsur yaitu :
1. Meyakini sepenuh hati bahwa risalah
yang dibawa Nabi adalah bersumber dari Allah SWT.
2. Meyakini bahwa beberapa Nabi seperti
Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim as,Nabi Musa as,Nabi Isa as, Nabi Nuh as
merupakan “ Rasul Ulul Azmi “.
3. Membenarkan semua yang diajarkan
Nabi Muhammad SAW kepada kita.
4. Mengamalkan syari’at yang dibawa
Nabi.
Wajib hukumnya beriman kepada beriman kepada kepada para Nabi dan Rasul Allah semuanya, dan bukan hanya kepada Rasul, dan hal ini termasuk pondasi-pondasi agama dan rukun-rukun agama Islam yang kokoh didalam Al-quran,
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ( Al-Baqarah ayat 136)
Artinya:
“Katakanlah (wahai muhamad), “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya.”
Dan Allah juga berfirman:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُون ( Al-Baqarah ayat 177 )
Artinya:
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
Maka cermatilah bagaimana Allah mewajibkan kepada orang-orang yang beriman
untuk beriman kepada seluruh Nabi dan Rasul, dan Allah menyebut nama Nabi
Ismail, Nabi Ishak, dan Anak cucunya, dan Allah juga memberitahukan bahwa
orang-orang yang beriman itu tidak membedakan antara Nabi atau Rasul yang satu
dengan yang lainnya, bahkan mereka meyakini akan kafirnya orang yang
mengingkari kenabian seorang yang Allah kukuhkan kenabian padanya; karena
mengingkari seorang Rasul ataupun Nabi berarti mengingkari semua para Rasul.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar